Tugas
Strategi pembelajaran
Disusun OLeh:
Pona gusmanita (1820112)
44
Dosen: Yessi Rifmasari,M.Pd
STKIP ADZKIA
PADANG
2020
A.Konsep belajar
2. Tahap operasional 2-7
3. Tahap operasional konkret, 7-11 tahun
Menurut Gagne dan Briggs (1988), perubahan tingkah laku dalam proses belajar menghasilkan aspek perubahan seperti kemampuan membedakan, konsep kongkrit, konsep terdefinisi, nilai, nilai/aturan tingkat tinggi, strategi kognitif, informasi verbal, sikap, dan keterampilan motorik.
Menurut Sudjana,1989 Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu.
B.Karakteristik proses belajar
Teori belajar yang diimplementasikan ketika proses belajar akan mempengaruhi bahan yang dipelajari, proses yang dilaksanakan dan hasil yang diharapkan. Proses belajar sangat dipengaruhi oleh pendekatan atau startegi pembelajaran yang dituntut dalam kurikulum saat ini adalah proses yang memaksimalkan semua potesnsi yang dimiliki siswa.
a. Teori belajar
Terdapat beberapa teori yang dapat dipertimbangkan dalam proses pembelajaran di SD.
1) Teori Belajar Disiplin Mental
Karakteristik teori belajar ini menganut prinsip bahwa manusia memiliki kemampuan daya mental untuk mengamati, menanggapi, mengingat, berpikir, dan sebagainya (potensi dan kemampuan) yang dapat dilatih dan dikembangkan. Hal ini biasa dilakukan oleh siswa SD kelas rendah.
2) Teori Belajar Asosiasi
Teori belajar ini menitikberatkan pada perubahan perilaku yang menekankan pada pola perilaku yang baru yang dilakukan berkali-kali sehingga menjadi sebuah rutinitas atau kebiasaan. Dimana teori ini menonjolkan stimulus-respons yang membentuk kemampuan siswa secara spesifik dan terkontrol. Untuk melakukan kontrol dalam membentuk kemampuan siswa terdapatnya hukuman (punishment) dan ganjaran (reward) .
3) Teori Insight
Teori belajar ini berusaha untuk mengubah pemahaman siswa dimana siswa akan menggunakan lingkungan sekitarnya sebagai lahan belajar. Sehingga siswa dituntut untuk eksploratif, imajinatif dan kreatif dalam mencari informasi sebuah kejadian di sekitarnya. Informasi tersebut digunakan untuk bahan pelajaran yang kemudian diolah menjadi sebuah prinsip.
C.Tahap perkembangan peserta didik
pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatau sistem atau proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik atau pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Menurut Piaget, anak-anak memiliki cara berpikir berbeda dari orang dewasa. Piaget membagi tahapan perkembangan anak dalam empat tahap.
1. Tahap sensimotor, 0-24 bulan
Setiap bayi lahir dengan refleks bawaan dan dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Oleh karena itu, pada masa ini, kemampuan bayi terbatas pada gerak refleks dan panca inderanya. Berbagai gerak refleks tersebut kemudian berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan. Pada tahap awal ini, si Kecil belum dapat mempertimbangkan kebutuhan, keinginan, atau kepentingan orang lain, sehingga ia dianggap “egosentris”.
Pada usia 18 bulan, si Kecil juga sudah mampu menciptakan simbol-simbol dalam suatu benda serta fungsi beberapa benda yang tak asing baginya. Si Kecil pun kini mampu melihat hubungan antarperistiwa dan mengenali mana orang asing dan mana orang terdekatnya.
2. Tahap operasional 2-7
Pada masa ini, anak mulai dapat menerima rangsangan, meski masih sangat terbatas. Si Kecil pun sudah masuk ke dalam lingkungan sosial. Ciri tahapan ini adalah anak mulai bisa menggunakan operasi mental yang jarang dan secara logika kurang memadai.
Si Kecil juga masih tergolong “egosentris” karena hanya mampu mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang diri sendiri dan kesulitan melihat dari sudut pandang orang lain. Ia sudah dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda berwarna merah, walaupun bentuknya berbeda-beda.
3. Tahap operasional konkret, 7-11 tahun
Pada masa ini, anak sudah mampu melakukan pengurutan dan klasifikasi terhadap objek maupun situasi tertentu. Kemampuan mengingat dan berpikir secara logis si Kecil pun makin meningkat. Ia mampu memahami konsep sebab-akibat secara rasional dan sistematis sehingga si Kecil mulai bisa belajar matematika dan membaca. Pada tahapan ini pula sifat “egosentris” si Kecil menghilang secara perlahan. Ia kini sudah mampu melihat suatu masalah atau kejadian dari sudut
4. Tahap operasional normal, 7-11 tahun
Pada masa ini, anak sudah mampu berpikir secara abstrak dan menguasai penalaran. Ia dapat menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Ia dapat memahami konsep yang bersifat abstrak seperti cinta dan nilai. Si Kecil juga bisa melihat kenyataan tidak selalu hitam dan putih, tetapi juga ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Kemampuan ini penting, Mam, karena akan membantunya melewati masa peralihan dari masa remaja menuju fase dewasa atau dunia nyata.
D. Karakteristik pembelajaran di sd
Karakteristik Pembelajaran di Kelas Rendah
Anak kelas rendah adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. . Tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia SD, yaitu:
1. Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar dimulai dari hal-hal yang yang bersifat nyata yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan dalam belajar akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Karena Cara belajar anak SD untuk kelas rendah masih bersifat kongkrit maka pelaksanan pembelajaranya diupayakan sedemikian rupa sehingga anak banyak melakukan kegiatan belajar melalui pengalaman langsung.
2. Integratif
Pada tahap usia SD anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3. Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.
Karakteristik Pembelajaran di Kelas Tinggi
Karakeristik perkembangan berfikir anak usia kelas 4, 5, 6, sebagaimana telah kita bahas di muka memiliki implikasi terhadap proses pembelajaran yang harus dirancang. maka siwa kelas tinggi maka siswa kelas 4, 5, 6 anak perlu dikondisikan untuk dapat melakukan berbagai kegiatan yang menatang dan siswa sudah mulai melakukan percobaan atau eksperimen dan belajar memecahkan masalah. Dengan cara itu anak dapat membangun pengetahuan melalui penalaran abstrak dan konkret atau deduktif dan induktif.
Penerapan berbagai kegiatan belajar di kelas tinggi adalah Upaya guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas tinggi diperlukan penguasaan bahan yang optimal, kemampuan memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang relevan dapat mengaktifkan siswa dalam belajar dan dituntut kepiawaian guru dalam melaksanakan pembelajaran yang menantang bagi siswa pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan serta mapu memilih dan menggunakan media pembelajaran yang bervariasi. Guru harus menguasai ragam strategi ataupun metoda yang dapat membelajarkan siswa. Di kelas tinggi menuntut guru untuk mampu menguasai multi metode dan multi media, menciptankan atau mengorganisir lingkungan belajar yang memungkinkan anak belajar penuh tantangan, mampu memecahkan masalah, mengelola kelas dan menggunakan media sumber belajar yang bervariasi. Sementara itu ada beberapa perilaku yang sangat membantu pencapaian pembelajaran yang efektif.
Artikelnya bermanfaat dan sangat membantu. Terima kasih sudah share
BalasHapusArtikelnya bagus,semoga aja bisa membantu dan bermanfaat bagi pembaca.
BalasHapusArtikelnya bagus, tetap semangat
BalasHapusWah, artikel yang sangat mebantu sekali
BalasHapusTp saya bertanya sesuatu ya
Saya sudah membaca blog anda,, di sana saya membaca menurut sutjana(1989) berlajar juga merupakan proses melihat, mengamati Dan memahami sesuatu
Yang saya pertanyakan, apakah orang buta tidak bsa berlajar???
Baik terimakasih diki,pertanyaan yang sangat bagus. Menurut saya misalnya seseorang buta ia bisa belajar yaitu dengan cara memahami apa yang dijelaskan.karna belajar tidak hanya dengan panca indera saja,melainkan dengan memahami
HapusArtikel nya sangat bagus
BalasHapusDan mudah di pahami
Wahh artikelnya bagus ya
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat, tapi saya sedikit ingin bertanya dalam strategi belajar tentunya siswa mempunyai tahapan2 supaya proses belajar tersebut dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai, jelaskanlah tahap2 belajar yang dilalui pada saat proses belajar. Terimakasih
BalasHapusTulisannya sudah bagus tapi masih terdapat kesalahan dalam penggunaan EYD yang kurang tepat.. smoga kedepannya bisa lebih baik lagi bagi penulis
BalasHapusArtikelnya bgus
BalasHapusArtikelnya bagud
BalasHapusArtikelnya bagus,, mkasih sudah di share
BalasHapusBagus.. Tetapi bahasanya di sederhana kan lagi
BalasHapussyukron kak,sngat mmbantu🙏
BalasHapusArtikelnya menarik
BalasHapus